Desa Tijayan

Kec. Manisrenggo
Kab. Klaten - Jawa Tengah

Artikel

Sejarah Desa Tijayan

Administrator

05 Maret 2026

7 Kali dibuka

Catatan sejarah tidak menyebutkan secara pasti tahun berdirinya Desa Tijayan. Namun, pemerintahan administratif yang menggunakan nama Tijayan sudah tercatat sejak awal tahun 1940-an, pada saat itu Kelurahan Tijayan masih menggunakan nama Kelurahan Kewedanan Tijayan. Beberapa waktu kemudian, secara administratif, Desa Surobayan yang berdekatan dengan Tijayan bergabung untuk menginduk secara administratif pada Kelurahan Tijayan sampai hari ini.

Pada masa sebelum kemerdekaan, sebelum tahun 40-an, pertumbuhan penduduk di kawasan masih sangat sedikit. Sebelum adanya Dukuh Sutomenggalan, Sendang Lanang, dan Jetis Kidul kawasan itu sering disebut Ngeladon–sebab kawasan itu kerap menjadi jalur lahar dingin ketika erupsi Gunung Merapi. Kemudian, pada akhir masa kolonialisasi Belanda dan sampai pada masa penjajahan Jepang, dikembangkanlah pembangunan sebuah tanggul dengan sistem Iringdines atau gotong royong di Sungai Kaliworo.

Berdasarkan penuturan Tugimin Trisnomihardjo, salah satu tetua desa Tijayan yang mengatakan jika saat itu setiap orang yang ikut  Iringdines membuat tanggul di Sungai Kaliworo akan diberikan dua petak lahan sawah di wilayah Tijayan. Pembagian lahan sawah itu dilakukan di kantor kelurahan dan dibagikan bergiliran secara merata untuk setiap orang yang terlibat Iringdines. Namun, atas arahan pemerintahan kolonial, lahan sawah yang diberikan itu hanya diwajibkan untuk ditanami padi dan tebu, yang nantinya, sebagian besar hasil panen harus diserahkan kepada penjajah dengan prasyarat pada sistem kongsi atau kerjasama.

Sejak awal berdirinya Kelurahan Tijayan, sudah terdapat tujuh Kepala Desa yang memimpin sampai hari ini. Silih berganti tampuk kepemimpinan berpindah tangan sepanjang sejarah, silih berganti cerita dan gagasan yang diwariskan oleh masing-masing Kepala Desa.

1. Djojo Redjo (1940an-1960)

Djojoredjo 

Djojo Redjo adalah Kepala Desa pertama di wilayah administrasi Kelurahan Tijayan. Dahulu, ia bertempat tinggal di Jomboran, RW 01 dan menjabat sebagai Kepala Desa atau yang dulu lebih sering disebut Lurah Desa Tijayan dari tahun 1940-an sampai 1960. Sebelumnya, Djojo Redjo adalah pejabat setingkat Bayan–atau Kepala Dusun–yang kemudian diangkat dan ditunjuk menjadi Lurah oleh Kewedanan Ndorodono Gondang Winangoen dan disahkan secara administratif untuk memimpin Kelurahan Tijayan.

2. Soetomo (1960-1965an)

Soetomo 

Pergulatan politik nasional membawa angin baru di tahun 1960 dengan penunjukan pejabat lurah oleh Pemerintah Republik Indonesia yang saat itu dikuasai oleh Partai Nasional Indonesia (PNI). Soetomo, seorang tokoh masyarakat dari RW 06, Branjangan ditunjuk secara langsung untuk menjabat sebagai lurah baru menggantikan Djojo Redjo. Menurut penuturan orang-orang tua di Tijayan, Soetomo adalah seorang tokoh revolusioner dibidang pertanian. Ia mengembangkan produk varietas ketela atau ubi kayu dengan menyilangkan jenis pohon ketela karet dengan pohon ketela biasa. Varietas tersebut mampu menghasilkan hasil panen lebih melimpah dengan kualitas yang lebih baik daripada ketela biasa.

Dengan letak geografis Tijayan yang berdekatan dengan lereng Gunung Merapi, membuat tanah di Tijayan sangat subur dan gembur. Dengan terobosan yang ditawarkan Soetomo dibidang pertanian itu tentu telah membawa kemakmuran yang luar biasa pada masanya. Sayangnya, masa kepemimpinan Soetomo tak berlangsung lama. Gegap gempita gemuruh tragedi 65 telah menjalar meringsek masuk ke dalam desa dan serta menyeret Soetomo dari kepemimpinan lurah karena disinyalir terlibat aktif di dalam organisasi itu. Kurang lebih, Soetomo hanya menjabat lima tahun dan berakhir di 1965-an.

3. Wiro Kardjono (1965an-1989)

Wirokardjono 

Wiro Kardjono adalah anak dari Djojo Redjo, lurah pertama Tijayan. Ia adalah seorang petani tembakau yang tinggal di dukuh Jomboran RW 01. Wiro Kardjono adalah lurah pertama yang secara langsung ditunjuk oleh masyarakat Tijayan, ia menjabat selama kurang lebih 25 tahun dari rentang tahun 1965an sampai 1989.

Selain sebagai petani tembakau, Wiro Kardjono juga mengolah hasil pertanian tembakau guna kebutuhan produk cerutu. Sebagai daerah tadah hujan yang dekat dengan lereng Gunung Merapi, lahan pertanian wilayah Desa Tijayan tidak bisa setahun penuh ditanami padi, perlu ada komoditas pertanian lain yang ditanam silih bergantian dengan padi. Selain sayuran dan buah-buahan, tanaman tembakau seperti yang ditanam Wiro Kardjono adalah pilihan yang tepat yang mampu membawa kemakmuran bagi Desa Tijayan dari dulu hingga hari ini.

4. Sumarno AS (1989-1996)

Sumarno 

Sumarno AS adalah seorang tokoh pemuda yang tumbuh besar di dukuh Kranggan lalu pindah ke dukuh Branjangan RW 06. Sumarno AS adalah seorang anak dari juru supit atau mantri sunat yang dikemudian hari mendorong Sumarno AS untuk mengabdikan dirinya dengan menjabat sebagai Kepala Desa Tijayan. Sumarno menjabat pada rentang tahun 1989 sampai tahun 1996.

5. Darto, S.Pd (1997-2009)

Darto 

Berasal dari latar belakang seorang pendidik, Darto juga merupakan seorang tokoh pemuda yang aktif dalam beragam kegiatan warga desa Tijayan. Ia berperan dalam menggerakan kekuatan warga untuk melalukan pengamanan banjir lahar dingin akibat erupsi Gunung Merapi. Kemudian, Darto juga terlibat dalam aksi protes atas jebolnya tanggul Kaliworo pada tahun 1994 akibat aktivitas penambangan pasir ilegal yang terjadi waktu itu. Tak lama, akhirnya persoalan jebolnya tanggul Kaliworo berakhir dengan damai tanpa konflik berkepanjangan.

Darto tinggal di dukuh Sutomenggalan RW 04 dan menjabat sebagai Kepala Desa Tijayan dari tahun 1997 sampai dengan tahun 2009. Rentang kepemimpinan yang cukup lama dimanfaatkan Darto sebaik mungkin dengan melakukan berbagai macam terobosan dan pembangunan di Desa Tijayan. Pada dua periode awal Darto menjabat, ia mampu menyelesaikan pembebasan tanah kas desa yang mana dihuni masyarakat dan bisa dimiliki secara sah terbukti dengan kepemilikan sertifikat sampai saat ini bisa diwariskan. Pada tahun-tahun berikutnya, Darto juga membangun Gedung Gelora Mini Tijayan yang berfungsi sebagai gedung olahraga dan pertemuan. Lalu, akhirnya, pada 2009 ia memutuskan untuk mencalonkan diri sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Dapil II Klaten dari partai Golongan Karya. Sebagai anggota DPRD, Darto menjabat selama dua periode dengan lancar dan sukses.

6. Sumarno (2009-2015)

Sumarno 

Sumarno yang menjabat dari tahun 2009 hingga 2015 ini sebelumnya adalah seorang Kepala Dusun (KADUS) yang tinggal di Pogaten RW 13. Pada masa ia menduduki kursi Kepala Desa, Sumarno sukses melaksanakan program sertifikasi tanah desa melalui program-program seperti Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) dan Prona untuk tanah-tanah desa yang masih berstatus sertifikat buku letter C. Sertifikasi tanah letter C ini penting untuk meningkatkan kekuatan hukum tanah tersebut dengan biaya yang jauh lebih murah.

7. Joko Lasono (2017-Sekarang)

JOKO 

Rekam jejaknya dalam kepengurusan Karang Taruna serta pernah tercatat sebagai Ketua RW di usia yang relatif muda mendorong Joko Lasono untuk lebih mengabdikan diri kepada desa Tijayan dengan mencalonkan diri sebagai Kepala Desa Tijayan di tahun 2017. Selain itu, Joko Lasono juga tercatat aktif sebagai pengurus Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) dan terlibat secara langsung dalam mengembangkan kesejahteraan petani tembakau di Indonesia.

Pria yang tinggal di Dukuh Neketan RW 02 itu mengabdikan dirinya berdasarkan panggilan nurani untuk membangun desanya. Hal ini terbukti dengan masifnya pembangunan desa yang dilakukan pada masa kepengurusan Joko Lasono seperti pembangunan dua buah embung guna irigasi pertanian. Selain itu, Joko Lasono juga melanjutkan penyelesaian sertifikasi tanah melalui program PTSL yang sudah dimulai dari periode Kepala Desa sebelumnya. Sampai hari ini, Joko Lasono masih berkomitmen dalam pembangunan infrastruktur desa guna kesejahteraan warga desa Tijayan.

Masing-masing periode kepemimpinan dari setiap Kepala Desa meninggalkan jejak dan cerita di dalam gerak sejarah Desa Tijayan hingga hari ini. Warisan dan peninggalan program-program turunan yang masih berjalan hingga saat ini tentunya berkat sebuah kerjasama dan komitmen antara Pemerintah Desa Tijayan, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), Posyandu, Karang Taruna, RT/RW, Satuan Perlindungan Masyarakat (Linmas), relawan, tokoh agama, serta tokoh masyarakat lainnya yang bersinergi bersama demi kemajuan Desa Tijayan.

Komentar yang terbit pada artikel "Sejarah Desa Tijayan"

Kirim Komentar

Nama
Telp./HP
E-mail

Komentar

Captha

Komentar Facebook

Aparatur Desa

Kepala Desa

JOKO LASONO

Layanan Mandiri
Layanan Mandiri
Layanan Mandiri
Layanan Mandiri

Desa Tijayan

Kecamatan Manisrenggo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah

Galeri Video

Video Desa 1
Video Desa 2
Video Desa 3

Agenda

Belum ada agenda terdata

Sinergi Program

Komentar

Media Sosial

Statistik Pengunjung

Hari ini:225
Kemarin:0
Total:225
Sistem Operasi:Unknown Platform
IP Address:216.73.216.37
Browser:Mozilla 5.0

Lokasi Kantor Desa

Latitude:-7.68780036251729
Longitude:110.49923837184907

Desa Tijayan, Kecamatan Manisrenggo, Kabupaten Klaten - Jawa Tengah

Buka Peta

Wilayah Desa